BAGAIMANA MEREKA BELAJAR?

Pada pertemuan pertama yang merupakan sesi muqoddimah dari kajian rutin ini, telah disampaikan mengenai fenomena telah banyaknya orang yang berhijrah, banyaknya orang yang mendapatkan hidayah sehingga lebih suka melangkahkan kakinya ke rumah-rumah Allah, namun tidak sedikit dari mereka yang belum mengetahui bagaimana para ulama belajar, sedangkan kita dituntut untuk mengikuti metode belajar tentunya sesuai dengan kemampuan kita

Mereka Senantiasa Haus Akan Ilmu
Selain itu, para ulama terdahulu selalu haus akan ilmu. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam;

“Ada dua kelompok yang selalu tamak dan tidak pernah merasa kenyang, penuntut ilmu dan penuntut dunia.” (HR. Hakim)

Demikian hadits ini adalah wahyu, mukjizat yang selanjutnya dibenarkan oleh para ulama kita di dalam catatan-catatan sejarah mereka. (1) Dimana mereka sebagai penuntut ilmu tidak pernah lepas dahaga akan ilmu, dan (2) Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam menyamakan dengan ahli dunia.

Dan begitulah para ulama kita mempelajari firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam, hasrat mereka seperti ahli dunia mengejar dunianya.

Abul ‘Aaliyah mengatakan: 

“Kami dahulu mendengar riwayat-riwayat yang disampaikan oleh sahabat-sahabat Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam dan pada saat itu kami berada di Iraq, kami tidak pernah puas sampai kami atur perjalanan pergi ke Madinah untuk mendengar langsung dari lisan mereka.” (alkifayah 403)

Dan itu pula yang disampaikan oleh Imam Ahmad ketika ditanya, “apakah penuntut ilmu perlu melakukan perjalanan jauh dalam rangka menuntut ilmu?” Beliau menjawab: ya, demi ALLAH sangat ditekankan. Lalu beliau mencontohkan ‘alqomah dan al aswad saat mendengar hadits dari umar bin alkhatthab lalu mereka tidak puas sampai mereka safar ke madinah dan mendengar langsung dari Umar. (Muqaddimah ibnus shaalah 1/354)

Jadi kalau boleh kita qiyaskan , jikalau sekarang sudah ada kajian _ livestreaming_ , ada radio serta media yang memudahkan lain sebagainya, bagi penuntut ilmu sejati mereka tidak akan puas dengan media itu, sang penuntut ilmu sejati akan berusaha datang, karena atmosfir kajian beda berkah dan pahalanya. Kecuali jika kondisi memang tidak memungkinkan

Setali tiga uang; sebagaimana orang yang hobi duniawi, maka dia tidak akan pernah puas menonton pertandingan olahraga hanya melihat dari TV saja. Jika orang penggemar fanatik F1, dirinya akan rela ke Singapura ketika perhelatan digelar di sana. Jika penggemar bola, maka dimanapun kesebelasan favoritnya bertanding ia akan setia mendampinginya.  Dan contoh lain sebagainya.

Mereka Rela Bersusah Payah Demi Menuntut Ilmu
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian ….”  (HR. Tirmidzi)

Kita sekarang berada di sebuah era dimana ilmu telah dibuka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mendapatkan hadits tinggal sejarak sentuhan jari di smartphone. Menyimak kajian hanya sejauh jari jempol menyentuh tombol ‘play’ di gadget. Sementara para ulama terdahulu tak ayal harus safar berhari-hari bahkan berbulan-bulan demi hanya mendapatkan satu buah hadits. Sebagaimana kisah Jabir –radhiallahu’anhu- untuk bertemu Abdillah bin unais, untuk mendengar hadits Nabi  Shallallahu’alaihi wa Sallam yang berbunyi:

“Allah akan bangkitkan manusia dalam kondisi telanjang bulat … “ (HR. Bukhari).

Jabir –radhiallahu’anhu- untuk mendapatkan hadits ini berjalan kaki selama 1 bulan. (Arrihlah fi tholabil 110-118)

Bandingkan dengan keadaan kita saat ini, untuk mendapatkan satu buku hadits yang berisikan ribuan hadits, hanya cukup mengunduhnya dengan modal dua jempol dan kerap pula mendapatkan internet yang gratis. 

Imam Syu’bah, beliau mengatakan:

“Barangsiapa yang mencari ilmu hadits, maka dia bangkrut (maksudnya biayanya tidak murah). Aku pernah menjual  baskom atau ember ibuku seharga 7 Dinar untuk belajar ilmu agama.” (Siyar A’lamin Nubala’ 7/220)

Atau pula yang terjadi dengan Hisyam Ad Damasyqi harus menjual rumah demi dapat duduk di majelisnya Imam Malik. (Tahdzibul Kamal 3/1144)

Lalu sebagai pertanyaan renungan; kenapa mereka senantiasa dimuliakan di atas kita? Padahal kalau secara logika, dengan kemudahan teknologi di era canggih ini kita lebih bisa memiliki banyak koleksi hadits dibandingkan mereka. 

Jawabannya ada pada ucapan Syeikh Asy Syinqithi:

“Keberkahan ilmu yang membedakan,1 hadits berkah lebih baik daripada ribuan hadits tapi tidak berkah. Yang harus diincar oleh para penuntut ilmu, bukan hanya mencari ilmu, tapi mencari keberkahan ilmu, mencari ilmu yang bermanfa’at.”

Karena Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam pinta bukan hanya ilmu saja, tapi juga sekaligus ilmu yang bermanfaat. Dan salah satu cara mendapatkan keberkahan ilmu adalah usaha yang sungguh-sungguh, karena semakin kita jungkir balik mendapatkan sesuatu, sesuatu itu semakin bernilai di hati kita.

Ulama terdahulu setelah mendapatkan hadits, maka mereka mengamalkannya sehingga ilmu mereka berkahnya luar biasa, mereka kejar dan berupaya, benar-benar kerja keras untuk ilmu.

Ja’far durustuyah, beliau menceritakan kepada kita bagaimana beliau dan teman-temannya belajar di majelisnya ‘Ali bin Madini:

Kita ketika mendatangi majelisnya Ali bin Madini, kita sudah sampai di lokasi di waktu Ashar untuk kajian besok pagi lalu kami begadang, duduk sepanjang malam di lokasi, karena kita khawatir tidak mendapatkan tempat yang kondusif untuk mendengarkan ucapan Ali bin Madini .” (al jaami’ li akhlaqir rowi wa aadabis sami’ 2/138)

Sebagaimana ulama sungguh-sungguh, maka kita juga demikian. Jikalau dunia bisa dikejar, bagaimana dengan akhirat? Sudah pantasnya kita bersungguh-sungguh mengejar ilmu sebagaimana pencinta dunia mengejar dunia.

Jika upaya yang kita kerahkan demi dunia hingga jungkir balik bisa dilakukan, sudah sepantasnya kita pun berjungkir balik demi akhirat.

Jika untuk mendapatkan yang fana harus kerja keras, lalu bagaimana dengan yang kekal? Mustahil kita sukses di akhirat kalau tidak ada kerja keras.

Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam bersabda:

”Ketahuilah bahwa apa yang Allah tawarkan sangat mahal, dan yang Allah tawarkan untuk kalian adalah surga”.  (HR Tirmidzi)

Mungkinkah segampang itu kita menggapai surga? Jikalau untuk dunia kita bisa habis-habisan, kenapa akhirat tidak bisa habis-habisan? Kalau kaidah di dunia; “tidak ada makan siang gratis” , mungkinkah untuk Surga dapat ditebus dengan gratis? Mustahil.

Ketahuilah, jika surga itu murah, Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam tidak perlu hijrah dari Mekkah ke Madinah.  Jika surga itu murah, tidak ada penyiksaan terhadap Bilal.

Dan pintu gerbangnya upaya kita menggapai surga adalah dengan belajar dan belajar dan belajar. Karena Imam Bukhari mengatakan:

“Ilmu dulu sebelum berbicara dan beramal.”

Kisah lainnya yang pantas dijadikan teladan dalam menjemput ilmu adalah Al Imam Qutrub yang bernama asli Abu Ali Muhammad. Beliau adalah murid Sibawayh. Dalam tinjauan bahasa, makna ‘qutrub’ adalah binatang yang selalu bergerak dan tidak pernah lelah dan suka terlihat di malam hari. Julukan ’qutrub’ disematkan pada dirinya oleh Sibawayh karena saat sang guru membuka pintunya untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh, Sibawayh sudah mendapatkan sang murid berdiri di depan pintu rumahnya. Hal ini sering dilakukan oleh Al Imam Qutrub hanya demi bisa belajar dan bertanya kepada Sibawayh selama perjalanan ke masjid. (Akhbarun nahwiyin albashriyyin 39). 

Kisah lainnya para ulama terdahulu yang dapat dijadikan inspirasi dalam menjemput ilmu adalah kisah Al Imam Ahmad bin Hanbal, yang senantiasa ditahan oleh sang ibunda dengan menahan bajunya ketika hendak keluar rumah di pagi hari. Sang Ibunda berkata;  “Jangan pergi sekarang, tunggu sampai adzan subuh.”  Hingga akhirnya beliau masuk lagi seraya berkata: “Saya ingin cepat-cepat duduk di majelisnya Abu Bakar Ayyasy dan yang lainnya.”(Manaqib Imam Ahmad 26)

Karena mereka ingin masuk surga. Karena mereka mengetahui makna hadits Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam:

“Barangsiapa yang menuntut ilmu agama, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Mereka Menuntut Ilmu dengan Kerendahan Hati
Imam Syafi’i sebagaimana yang dinukilkan oleh Imam Nawawi dalam Al majmu’ Syarah Muhadzdzab 1/35:

“Tidak ada satupun orang yang menuntut ilmu agama ini dengan kekayaan, kekuasaan, harga dirinya yang tinggi, lalu sukses dengannya. Namun seseorang yang mempelajari ilmu dengan merendahkan hati (bahkan mungkin dirinya tapi di hadapan firman Allah) dan kehidupan yang sempit (bisa jadi dia orang kaya tapi saking semangatnya belajar, akhirnya dia tidak sempat menikmati uangnya sendiri, sehingga jika dibandingkan dengan orang miskin maka hampir sama), lalu dia berkhidmat kepada ahli ilmu (melayani ahli ilmu, beradab di hadapan mereka), mereka yang akan sukses.”

Sebenarnya ketika kita datang ke majelis, salah satu filosofinya kita tawadhu di hadapan Allah karena kaidah umum di masyarakat, yang datang itu yang paling kecil.  Makanya berkah karena harus tawadhu di hadapan ilmu.

Imam Mujahid dalam Shahih Bukhari mengatakan:

“Tidak akan sukses belajar ilmu agama, orang yang minder dan orang yang sombong.”

Demikiannya para ulama terdahulu bersungguh-sungguh, bukan ingin tampil, tapi ingin mencari ilmu yang berkah. 

Mereka Menuntut Ilmu Secara Bertahap
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang yang belajar dan mengajar dalam surat Ali Imron ayat 79:

“…Namun jadilah seorang rabbani ketika kalian belajar Al Qur’an dan mengajarkan Al Qur’an…” (QS: Ali Imron: 79)

Tugas kita bukan hanya belajar semata, namun selaras dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki, yakni belajar dengan metode Rabbaani. Pertanyaan besarnya, apa itu Rabbaani?

Abdullah bin Abbas menjelaskan makna Rabbaani kepada kita;

“Rabbaani adalah orang-orang yang mendidik manusia mulai dari hal-hal yang _basic sebelum perkara-perkara yang besar dan sulit.”_shahih albukhari bab al’ilmu qoblal qouli wal ‘amal

Sebagian ulama menggunakan dalil Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam tentang masalah kelembutan dalam memahami metode pembelajaran yang bertahap:

Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya” (HR. Muslim)

Syeikh Shalih Ali Syeikh berkata:

Dan dalam dunia ilmu kita butuh kelembutan, yaitu belajar sedikit demi sedikit (step by step). Dan metode sebaliknya bisa dikategorikan kasar dalam belajar.

Senada dengan perkataan Al Imam ibnu Syihab:

Barangsiapa yang mengambil ilmu sekaligus (langsung mengambil yang besar), maka akan hilang semuanya dalam waktu yang singkat juga, karena ilmu hanya bisa dipelajari dengan berjalannya siang dan malam.” jami’ bayanil ‘ilmi wa fadhlih 464

Sebagian ulama mengatakan:

“Barangsiapa yang tidak memiliki pondasi, maka dia tidak akan sampai ke tujuan.” addurorus saniyyah 5/352

Sebagai analogi, jika anak kecil yang baru memulai belajar telah menyukai mata pelajaran matematika namun jika oleh gurunya diberikan soal algoritma, maka besar kemungkinan kecintaan sang anak kecil pada matematika akan luruh sekejap.

Hal yang sama pun diterapkan pada ilmu bela diri, jika seseorang langsung mempelajari sekian banyak gerakan jurus mematikan namun ternyata kuda-kuda dasarnya lemah dan salah, maka sangatlah mudah bagi lawannya untuk menjatuhkan dirinya.

Inilah sebagai suatu kesimpulan, kalau mau sukses maka belajarlah dengan bertahap, pelan-pelan dan pelajari satu per satu karena itu adalah metode para ulama kita.

Karena ini adalah konsep Allah Subhanhu wa Ta’ala. Sebagaimana apa yang telah Allah firmankan dalam menjawab metode turunnya Al Qur’an dari orang-orang kafir: 

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?“;  demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS: Al Furqon: 32)

Demikiannya hati Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam yang dikokohkan secara bertahap. Karena inilah konsep Allah Subhanahu wa Ta’ala. Konsep yang dapat diimplementasikan pada bidang keilmuan apapun; yakni menguasai secara bertahap. Dari perihal yang termudah dan terkecil hingga bertahap ke hal yang besar dan sulit. Inilah konsep sukses yang Allah tawarkan; kalau kita mau sukses, maka jadilah orang Rabbaani.

Mereka Mempelajari Adab Dahulu, Sebelum Belajar Ilmu
Salah satu ilmu yang harus kita prioritaskan selain akidah, iman, ibadah-ibadah yang wajib, adalah adab, seperti yang dikatakan Al Imam Ibnul Mubarok:

_“Dulu ulama kita belajar adab dulu sebelum belajar ilmu.”_ghoyatun nihayah 1/446

Adab akan membuat ilmu kita berjalan paralel. Ilmu yang akan membuat kita menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah. Itu akan membuat banyak permasalah clear dengan sendirinya karena mempunyai adab.

Contoh dalam masalah adab, telah diaplikasikan pada kisah nyata tatkala terjadi dialog dua ulama besar dari dua madzhab yang berbeda, Ibnu Hazm Al Andalusi (Madzhab Zhahiri) dan Abul Walid Al Baaji (Madzhab Malikiyah). (Mu’jamul Udaba’ 4/1651)

Sulit dipungkiri pertemuan perbedaan yang banyak dalam keilmuan, selain itu perbedaan semakin diperjarak pula oleh status ekonomi dari kedua ulama besar tersebut, Ibnu Hazm yang kaya raya dan Abul Walid yang tidak banyak harta dengan pekerjaannya sebagai penjaga keamanan. 

Dialog diskusi yang terjadi sangat menegangkan namun memiliki akhir yang luar biasa. Di mana Abul Walid Al Baaji mengatakan di akhir argumennya:

Ibnu Hazm, kalau aku salah, saya minta maaf karena mayoritas muroja’ah saya ketika saya berada di bawah lampu malam yang temaram.

Begitu mendengar hal itu, Ibnu Hazm tak kalah cerdas  nan beradab pun mengatakan:

”Anda juga harus memaafkan saya kalau saya ada salah dalam berdebat karena saya belajar selama ini mayoritasnya di atas mimbar-mimbar emas dan perak.

Abul Walid Al Baaji berdalil dengan faktor materi, artinya beliau tidak mempunyai fasilitas yang menunjang belajar beliau. Sedangkan Ibnu Hazm menjawab secara psikis karena fasilitas yang membuat kita nyaman rentan membuat kita terlena. Dapatlah dibayangkan jikalau kita belajar di atas kursi nyaman yang dapat memijat nan empuk, sungguh akan sulit sekali ilmu dapat masuk ke dalam sanubari. Dan ketahuilah, hal tersebut justru lebih berbahaya, karena hati di-nina-bobokan.

Point yang ingin kita petik adalah lihat bagaimana adab diantara dua ulama ini, mereka saling meminta maaf di akhir debat. Mereka ketika saling mengkritisi, murni karena cemburu terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu’alam bishawab.
=====================
InsyaAllah bersambung kembali pada kajian selanjutnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *